Laman

Sabtu, 19 Mei 2012

marhalah muslimah


Pengantin-Pengantin Al-Quds

17/5/2012 | 26 Jumada al-Thanni 1433 H | Hits: 1.202
Oleh: Usman Alfarisi
Kirim Print
Cover buku "Pengantin-Pengantin Al-Quds".

Judul Buku : Pengantin-Pengantin Al Quds
Penulis : Sakti Wibowo dkk
Cetakan : I, 2011
Penerbit : Proumedia – Yogyakarta
Tebal : 182 Halaman
ISBN : 978-602-8-941-020

Pengantin tanpa Malam Pertama
dakwatuna.com – Lebih dari 60 tahun, Israel (illegal) resmi menjajah Palestina, negeri suci warisan para nabi. Tanah wakaf kaum muslimin yang menjadi saksi peristiwa Isra’ Mi’raj itu, hingga kini masih saja dikangkangi oleh bangsa kera tak berperikemanusiaan itu. Tak tanggung-tanggung., Yahudi yang berwatak Zionis itu seakan berkehendak membumihanguskan Palestina dan warganya, tanpa ampun.
Mereka tidak pandang bulu dalam membasmi warga Palestina. Bukan hanya militan, melainkan warga sipil yang tak berdosa sekalipun ikut dijadikan sasaran. Mulai dari anak-anak, ibu mengandung, dewasa, hingga orang yang sudah jompo sekalipun, semuanya disamakan. Asal labelnya Palestina, maka perlakuannya sama: Bunuh!

Jumat, 02 Maret 2012

Apakah Anak-ku harus rangking 1?


tulisan ini saya dapat dari murrabi sekitar 2 minggu yg lalu, semoga kita bisa mengambil hikmah dari tulisan ini :)
Di kelasnya terdapat 50 orang murid, setiap kali ujian, anak perempuanku tetap mendapat ranking ke-23. Lambat laun membuat dia mendapatkan nama panggilan dengan nomor ini, dia juga menjadi murid kualitas menengah yang sesungguhnya. Sebagai orangtua, kami merasa nama panggilan ini kurang enak didengar,namun ternyata anak kami  menerimanya dengan senang hati.
Suamiku mengeluhkan ke padaku, setiap kali ada kegiatan di perusahaannya atau pertemuan alumni sekolahnya, setiap orang selalu memuji-muji “Superman cilik” di rumah masing-masing, sedangkan dia hanya bisa menjadi pendengar saja. Anak keluarga orang, bukan saja memiliki nilai sekolah yang menonjol, juga memiliki banyak keahlian khusus. Sedangkan anak kami rangking nomor 23 dan tidak memiliki sesuatu pun untuk ditonjolkan. Dari itu, setiap kali suamiku menonton penampilan anak-anak berbakat luar biasa dalam acara televisi, timbul keirian dalam hatinya sampai matanya begitu bersinar-sinar.

goresan pena untuk hati


Kesendirian adalah saat-saat berharga di mana kita benar-benar mengasah ibadah, kemampuan, kepribadian dan pencarian ilmu yang sebaik-baiknya. Sebagai bekal tatkala kita melepas masa kesendirian.

Kesendirian mengajarkan kepada kita, betapa sulitnya medan kehidupan tanpa adanya pendamping. Kita punya keluarga dan kawan-kawan, tapi tidak selalu keluarga dan kawan bisa menemani kegiatan atau keperluan kita. Mendengar hal paling rahasia yang kita simpan. Tapi kesulitan, bukan menjadikan kita lemah dan mencari pegangan yang akan membantu kita guna menjalani kehidupan. Pegangan atau di sebut seseorang yang siap sedia untuk mengantar dan menolong kita namun belum ada ikrar yang menghalalkan hubungan tersebut. Itu hanya akan menjadikan kita makin bertambah lemah.

Kesendirian mengajarkan ketangguhan sebagai wanita, tatkala berbagai rasa menerpa. Kesedihan, kegelisahan, kerinduan, kebencian. Kita bingung menumpahkan segala rasa itu kepada siapa. Tapi jika kita berusaha untuk mendekati Allah secara perlahan, kita bisa mengandalkan Allah untuk itu.  Serahkan segala keluh kesah, kelemahan dan rasa sayang kepada Allah. Allah menjadikan kita kuat. Mengandalkan Allah menjadikan kita bermetamorfosis menjadi kupu-kupu. Kita berpegang pada Yang Maha Kuat, yang semesta alam adalah ciptaanNya. Secara fisik, kita terlihat seorang diri. Berpanas-panasan berganti angkot ke sana kemari karena berbagai agenda kegiatan. Berseliweran di antara para pasangan yang telah menikah. Keinginan untuk di perhatikan dan selalu di sayang, adalah lumrah bagi seorang wanita. Anggap saja semua adalah warna kehidupan kita, warna ujian yang semoga bisa menguatkan iman kita.